
PEKANBARU – Tari Zapin, salah satu mahakarya seni gerak yang lahir dari womb sejarah budaya Melayu, terus mengalami perkembangan pesat dan menemukan momentumnya yang paling kuat di Desa Meskom, Kabupaten Bengkalis, Riau. Desa ini kini dikenal luas sebagai episentrum pergerakan Zapin di seluruh nusantara, tempat di mana tradisi itu tidak hanya dilestarikan dalam arsip sejarah, melainkan ditarikan dengan penuh kehormatan dan khidmat di atas tanah yang kaya akan warisan budaya Melayu.
Ketua Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, mengungkapkan dengan penuh penghayatan bahwa fenomena pelestarian Zapin di Riau melampaui sekadar upaya konservasi. Menurutnya, Zapin telah bertransformasi menjadi sebuah identitas kolektif yang menyatukan energi budaya antara kota dan desa, menciptakan ikatan emosional dan spiritual yang mendalam bagi setiap penarinya. Dalam setiap gerak tangan dan langkah kaki para penari, tersimpan narasi besar tentang kejayaan peradaban Melayu yang terus dijaga agar tetap bersinar sepanjang masa.
Keunikan Desa Meskom terletak pada komitmen generasi demi generasi warganya untuk menjadi penjaga api tradisi dengan sepenuh hati. Tidak ada pembatas usia dalam kegiatan kesenian di desa ini—dari anak-anak mungil hingga para tetua, semua bersatu dalam harmoni gerak Zapin yang memukau dan memikat hati. Kesatuan ini telah membuat Desa Meskom mendapat julukan indah sebagai “Kampung Zapin,” sebuah gelar yang merepresentasikan dedikasi kolektif masyarakat lokal.
Keahlian masyarakat Meskom tidak terbatas pada aspek pertariannya saja. Mereka juga menguasai seni musik tradisional yang menjadi jantung dari pertunjukan Zapin, mulai dari permainan alat musik gambus, marwas, hingga berbagai perkusi tradisional lainnya. Alunan musik pengiring yang magis lahir dari tangan-tangan terampil warga lokal, menciptakan simfoni tradisional yang mampu menyentuh jiwa setiap pendengar. Datuk Seri Taufik Ikram Jamil menekankan bahwa ketangkasan ini bukan sekadar keterampilan semata, melainkan warisan genetika budaya yang terintegrasi dalam nafas kehidupan sehari-hari mereka.
Pengakuan terhadap signifikansi Zapin Riau telah melintasi perbatasan geografis dan mendapat legitimasi dari berbagai kalangan, termasuk akademisi, budayawan, dan otoritas pemerintah pusat. Riau secara bulat diakui sebagai episentrum Zapin se-Nusantara, bukan semata-mata sebagai kebanggaan, melainkan sebagai pengakuan atas keragaman varian dan dinamika Zapin yang tumbuh subur di setiap penjuru Bumi Lancang Kuning.
Pengakuan resmi ini semakin menguat dengan penetapan status Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh pemerintah pusat. Status tersebut menjadi bukti nyata bahwa Zapin Riau memiliki nilai sejarah yang mulia dan filosofi yang mendalam. Setiap penetapan WBTb adalah komitmen institusional untuk memastikan cahaya Zapin tetap bersinar sebagai identitas tak tergoyahkan bagi peradaban Melayu. Datuk Seri Taufik Ikram Jamil menutup pandangannya dengan sebuah visi ambisius bahwa Zapin memiliki potensi untuk menjadi tren global yang diakui di panggung dunia. Menurutnya, jika Zapin dikelola dengan integritas dan organisasi yang matang, seni pertunjukan ini akan menjadi duta budaya Indonesia yang mampu membawa kehormatan bangsa di mata internasional. Visi ini merepresentasikan harapan bahwa tradisi yang berakar dalam di masa silam dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah bagi pariwisata budaya global.
Sumber: Media Center Riau – Sabtu, 10 Januari 2026