Bukan Sekadar Tari dan Upacara — Ini Cara Nyata yang Dituntut agar Budaya Melayu Tak Tergerus di Pekanbaru

PEKANBARU – Kota Pekanbaru baru saja merayakan ulang tahun ke-242. Gedung-gedung tinggi terus bermunculan, investasi mengalir deras, dan sektor perdagangan tumbuh pesat. Tapi di balik semua kemajuan itu, ada satu pertanyaan penting yang terus menggema: apakah budaya Melayu masih punya tempat di kota yang semakin modern ini?

Pertanyaan itu dijawab oleh dua sosok dari latar belakang berbeda — seorang tokoh adat dan seorang aktivis budaya muda. Keduanya sepakat bahwa kemajuan boleh diraih setinggi-tingginya, tapi jangan sampai mengorbankan identitas budaya yang sudah mengakar selama berabad-abad.

Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (MKA LAMR) Provinsi Riau, Datuk Seri Marjohan Yusuf, menyampaikan ucapan selamat atas hari jadi Pekanbaru. Ia bangga dengan capaian kota ini yang semakin maju, modern, dan berdaya saing.

Namun di saat yang sama, ia mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan nilai-nilai luhur Melayu. Pembangunan yang ideal, menurutnya, adalah yang mampu memadukan kemajuan teknologi dan ekonomi dengan nilai agama, adat istiadat, bahasa, serta budaya khas daerah.

Pesannya tegas: Pekanbaru harus tetap melangkah maju, tapi tidak boleh kehilangan jati diri. Kota ini harus tetap bermarwah dan bermartabat di Bumi Lancang Kuning.

Pandangan senada datang dari kalangan muda. Ketua UKM Batra Universitas Riau, Juan Dono, menyoroti sisi lain yang jarang dibicarakan — perubahan demografi. Menurutnya, perkembangan Pekanbaru sebagai kota urban telah menciptakan masyarakat yang sangat beragam. Percampuran penduduk dari berbagai suku dan budaya semakin sering ditemui, sehingga mempertahankan kearifan lokal Melayu menjadi tantangan yang tidak ringan.

Juan tidak mau basa-basi soal solusi. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya lewat kegiatan seremonial — potong pita, pakai baju adat saat upacara, lalu selesai. Yang dibutuhkan adalah kebijakan konkret dari pemerintah kota yang berdampak langsung kepada masyarakat.

Salah satu yang ia dorong adalah pendekatan kreatif dalam mengenalkan budaya kepada generasi muda. Budaya Melayu, katanya, punya kekayaan yang jauh lebih luas dari sekadar tarian. Ada tradisi sastra Melayu, seni rupa, dan banyak aspek lain yang bisa dikemas menjadi ruang ekspresi menarik bagi anak-anak muda.

Ia juga menekankan bahwa tanggung jawab menjaga budaya tidak bisa dipikul satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi solid antara pemerintah, lembaga adat, akademisi, budayawan, komunitas, dan masyarakat luas. Semua pihak harus merangkul visi yang sama — menjaga jati diri kebudayaan daerah tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Juan berharap Wali Kota Pekanbaru bisa mengarahkan dinas terkait untuk lebih aktif menyediakan ruang berkreasi bagi generasi muda. Dengan sinergi yang kuat, ia percaya nilai-nilai adab, sopan santun, dan identitas Melayu akan tetap tumbuh menyertai kemajuan peradaban di Kota Pekanbaru.

Sumber: Media Center Riau – Rabu, 24 Juni 2026

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *